Kevin baru saja menyelesaikan semester lima di jurusan Teknik Informatika. Usianya baru menginjak dua puluh tahun, tapi dia masih betah tinggal di rumah orang tua di pinggiran Jakarta Selatan. Rumah dua lantai itu berdiri di kompleks perumahan yang tenang, dengan pagar besi hitam dan taman kecil di depan yang selalu hijau berkat perawatan rutin Maya. Pohon-pohon palem kecil dan pot-pot bunga warna pink yang Mama tanam sendiri membuat rumah itu terlihat hangat dari luar. Di dalam, ruang tamu berlantai keramik putih mengkilap, sofa kulit cokelat yang empuk, dan tangga kayu jati menuju lantai dua. Kamar Kevin ada di ujung koridor, sementara kamar orang tua di sebelahnya, dengan pintu tebal yang selalu tertutup rapat saat malam tiba.
Ayahnya, Tyo, adalah manajer di perusahaan konstruksi besar. Pekerjaannya sering membuatnya pulang larut malam, atau bahkan dinas ke luar kota selama berhari-hari. Saat di rumah, dia adalah ayah yang baik—tegas tapi penyayang, sering membawa oleh-oleh makanan kesukaan Kevin seperti martabak manis dari kantor. Tapi belakangan, Kevin lebih sering menghabiskan waktu dengan Maya. Wanita berusia empat puluh satu tahun itu masih terlihat seperti tiga puluhan awal. Tubuhnya kencang berkat rutinitas yoga tiga kali seminggu di studio dekat rumah. Kulitnya sawo matang halus, rambut hitam panjangnya sering digelung santai, dan senyumnya selalu lembut saat memandang anak semata wayangnya.
Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras sejak sore. Suara air menghantam atap genteng terdengar seperti irama yang tak henti. Kevin pulang dari kampus dengan motor bututnya, basah kuyup meski pakai jas hujan. Tas ranselnya dilempar begitu saja di sofa ruang tamu, meninggalkan genangan air kecil di lantai. Dia naik tangga pelan, kakinya berat karena pikiran yang kalut. Clara, pacarnya selama enam bulan terakhir, baru saja memutuskan hubungan tadi siang via chat. Kata-katanya masih terngiang: “Vin, kamu baik banget sih, tapi di ranjang kamu… kurang greget. Aku butuh yang bisa bikin aku puas, bukan cuma culun gitu.”
Kevin mengetuk pintu kamar orang tua pelan. “Ma… boleh masuk?”
Dari dalam, suara lembut Maya terdengar, diselingi suara halaman majalah yang dibalik. “Boleh, Nak. Pintunya nggak dikunci. Masuk aja.”
Kevin membuka pintu perlahan. Kamar itu luas, dengan tempat tidur king size berseprai putih bersih di tengah ruangan. Lampu tidur kuning temaram menyinari sudut-sudut, membuat suasana hangat dan intim. Jendela besar menghadap taman belakang yang gelap karena hujan, tirai tipisnya bergoyang pelan ditiup angin dari AC. Maya sedang duduk bersandar di headboard, kakinya selonjor di atas selimut tebal. Dia memakai daster satin warna krem yang longgar, tapi bahan tipisnya menempel lembut di lekuk tubuhnya—payudara yang masih penuh dan pinggul yang melengkung sempurna. Rambutnya digelung asal, beberapa helai jatuh ke bahu, dan wajahnya segar tanpa makeup tebal, hanya lip balm yang membuat bibirnya tampak mengkilap.
“Ada apa, Vin? Kok muka kamu kusut banget? Abis kena marah dosen ya?” tanya Maya sambil menutup majalah fashion di pangkuannya. Dia menepuk-nepuk kasur di sampingnya, mengajak Kevin duduk lebih dekat. Aroma parfumnya yang manis—campuran vanila dan bunga—menyelinap ke hidung Kevin, membuatnya sedikit tenang.
Kevin menghela napas panjang, duduk di pinggir kasur dengan bahu merosot. Tangannya memainkan ujung sprei putih yang lembut. “Bukan dosen, Ma. Clara. Kami putus tadi siang.”
Maya alisnya naik, ekspresinya campur antara khawatir dan penasaran. Dia bergeser lebih dekat, tangannya menyentuh lengan Kevin pelan. “Lagi? Yang ini yang ke berapa kalinya? Clara kan yang sering kamu ceritain itu?”
Kevin mengangguk lemah, matanya menatap lantai. “Iya. Dia bilang… aku nggak punya semangat, terlalu culun. Katanya aku nggak bisa bikin dia puas di… ranjang.”

Kata-kata itu keluar dengan susah payah, membuat pipi Kevin memerah. Maya terdiam sebentar, memandang anaknya dengan mata penuh kasih. Lalu dia tertawa kecil, suaranya lembut seperti angin malam. “Ya ampun, anak Mama kok bisa-bisanya dibilang gitu. Padahal dulu waktu kecil kamu anaknya paling semangat. Ingat nggak, waktu umur sepuluh tahun kamu nangis minta belajar naik sepeda sampe malam?”
Kevin manyun, tapi senyum tipis mulai muncul di bibirnya. “Mama jangan bercanda deh. Aku serius bingung, Ma. Aku takut nggak bisa bikin cewek puas. Udah coba segala posisi yang aku liat di internet, tapi tetep aja dibilang kurang. Kayaknya aku kurang pengalaman.”
Maya memandang Kevin lama, matanya dalam dan penuh pemahaman. Dia meraih tangan anaknya, menggenggamnya erat. Kulit tangannya halus, hangat. “Kamu masih muda banget, Vin. Baru dua puluh tahun. Cewek itu nggak cuma soal posisi atau teknik kasar. Yang penting feeling, perhatian, dan… pengalaman yang beneran. Kamu harus belajar pelan-pelan, rasain setiap momennya.”
Kevin mengangkat bahu, suaranya pelan. “Tapi aku nggak punya banyak pengalaman, Ma. Mantan-mantan sebelumnya juga pada kabur karena alasan yang sama.”
Maya tersenyum tipis, ada kilau aneh di matanya yang Kevin belum sadari. Dia bergeser lebih dekat lagi, bahunya menyentuh bahu Kevin. Aroma parfumnya semakin kuat, membuat kepala Kevin sedikit pusing. “Kalau kamu mau belajar beneran, Mama bisa ajarin loh.”
Kevin membelalak, tubuhnya menegang. “Hah? Ajari gimana, Ma?”
Maya tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap mata Kevin dalam-dalam, seperti mencari izin. Hujan di luar semakin deras, suara petir samar terdengar di kejauhan. Pelan-pelan, dia mendekatkan wajahnya. Bibirnya yang lembut menyentuh pipi Kevin dulu—hangat, basah sedikit karena lip balm. Kevin membeku, jantungnya berdegup kencang seperti drum. Aroma napas Maya manis, campur mint dari permen yang mungkin dimakannya tadi.
Lalu bibir itu turun ke sudut bibir Kevin, menggoda pelan. Kevin tidak menolak. Tubuhnya seperti terhipnotis. Akhirnya, bibir Maya menempel penuh di bibirnya. Ciuman pertama itu ringan, seperti mencoba air—lembut, hangat, dan penuh kelembutan ibu. Lidahnya belum masuk, hanya bibir yang saling tekan pelan.
Maya mundur sedikit, melihat reaksi Kevin. Matanya mencari tanda penolakan, tapi yang ada hanya kebingungan dan hasrat yang mulai muncul. Melihat itu, dia kembali mendekat. Kali ini lidahnya menyelinap masuk pelan, menyentuh lidah Kevin dengan gerakan lembut, menari seperti tarian lambat. Rasa manis dari mulutnya membuat Kevin merinding.
Akhirnya Kevin balas. Tangannya ragu-ragu naik, memeluk pinggang Maya. Tubuh ibunya hangat melalui daster tipis, lembut seperti sutra. Maya mendesah kecil di sela ciuman, suaranya seperti musik yang membuat bulu kuduk Kevin berdiri. Dia memandu tangan Kevin naik pelan, meletakkannya di atas dada yang terbalut daster.
“Remes pelan-pelan aja, Vin,” bisiknya, suaranya serak karena hasrat. “Jangan buru-buru. Rasain dulu kelembutannya.”
Kevin menuruti. Jemarinya meremas payudara ibunya yang penuh, masih kencang meski sudah melahirkan. Bentuknya sempurna di telapak tangannya, putingnya mengeras terasa melalui kain tipis. Maya mendesah lagi, lebih dalam kali ini, tubuhnya bergeser lebih dekat hingga pangkuannya menyentuh paha Kevin.
Ciuman mereka semakin dalam. Lidah Kevin mulai berani mengejar lidah Maya, saling melilit dengan basah. Air liur mereka bercampur, suara kecil “slurp” terdengar di kamar yang remang. Maya pelan-pelan menarik daster ke atas, memperlihatkan BH hitam lace yang transparan, payudaranya yang putih mulus terlihat samar-samar. Celana dalam senada sudah terlihat basah di bagian tengah.
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi Kevin. Semuanya berlangsung lambat, seperti pelajaran yang sabar.
Maya mundur dari ciuman, napasnya sudah agak tersengal. Dia memandang Kevin dengan mata setengah tertutup, penuh hasrat. “Lepas baju Mama pelan-pelan ya, Nak. Biar kamu belajar menghargai tubuh wanita.”
Kevin tangannya gemetar saat menyentuh tali BH. Dia tarik pelan, BH itu jatuh ke kasur, memperlihatkan payudara Maya yang telanjang. Putingnya cokelat muda, mengeras karena udara dingin AC dan hasrat. Bentuknya seperti buah pear matang, berat tapi kencang. Kevin menelan ludah, matanya tak berkedip.
“Sentuh aja, Vin. Jangan takut,” kata Maya sambil memandu tangan Kevin lagi. Jemari anaknya menyentuh kulit payudara yang halus seperti sutra, hangat dan lembut. Kevin meremas pelan, merasakan keempukan yang membuat kontolnya sudah tegang di celana.
Maya mendesah, kepalanya mendongak sedikit. “Sekarang cium leher Mama. Pelan-pelan, seperti ini…”
Dia memandu kepala Kevin ke lehernya yang jenjang. Kevin mencium kulit halus itu, aroma sabun mandi bercampur parfum membuatnya mabuk. Lidahnya menjilat pelan dari tulang selangka naik ke bawah telinga. Maya menggigil, tangannya memeluk kepala Kevin erat.
“Ahh… bagus, Vin. Leher itu sensitif banget buat cewek. Bikin kami langsung basah…”
Kevin semakin berani. Bibirnya turun ke payudara, mencium areola dulu sebelum lidahnya menyentuh puting. Dia jilat pelan, seperti es krim, lalu hisap lembut. Maya mengerang, suaranya lembut tapi penuh kenikmatan. “Gigit pelan aja… ya, seperti itu… ahh…”
Mereka menghabiskan waktu lama di bagian itu. Kevin bergantian menghisap kedua payudara, tangannya meremas yang satunya. Puting Maya semakin keras, basah karena air liur Kevin. Tubuh ibunya sudah panas, keringat tipis mulai muncul di dada.
Setelah puas, Maya dorong Kevin telentang pelan. “Sekarang giliran Mama ajarin kamu bagian bawah.”
Dia naik ke atas pangkuan Kevin, daster sudah terlepas sepenuhnya. Hanya celana dalam hitam lace yang tersisa. Kevin bisa merasakan panas dari selangkangan ibunya menyentuh kontolnya yang tegang melalui celana.
Maya cium bibir Kevin lagi, sambil tangannya turun membuka kancing celana jeans Kevin. Resleting diturunkan pelan, celana dalamnya ditarik ke bawah. Kontol Kevin langsung lompat keluar, tegang maksimal, panjang dan tebal dengan urat-urat menonjol. Ujungnya sudah basah precum.
Maya matanya berbinar, tersenyum nakal. “Wah… gede banget, Vin. Mama nggak nyangka anak Mama punya yang segede ini. Lebih gede dari Papa kamu loh…”
Tangannya menggenggam batang itu pelan, kulitnya halus tapi tegas. Kevin merintih keras saat tangan ibunya mulai mengocok naik-turun, lambat sekali, seperti menyiksa. Ibu jarinya mengusap ujung kepala kontol, menyebarkan precum ke seluruh batang.
“Enak ya, Nak? Tangan Mama lebih enak dari tangan kamu sendiri kan?” bisiknya sambil mencium dada Kevin.
Kevin hanya bisa mengangguk, pinggulnya naik-turun sendiri mengikuti ritme. Sensasi tangan Maya jauh lebih lembut dan terampil, tekanannya pas, membuatnya hampir keluar.
Tapi Maya tahu. Dia berhenti sebentar, tersenyum. “Jangan buru-buru keluar ya. Kita masih lama.”
Lalu dia menunduk, rambutnya jatuh ke wajah Kevin seperti tirai hitam. Lidahnya keluar, menjilat ujung kontol dulu—pelan, seperti mengecap rasa. Rasa asin precum membuatnya mendesah. “Enak… rasa anak Mama…”
Lidahnya berputar di kepala kontol, menjilat setiap sisi. Kevin mengerang, tangannya mencengkeram sprei. Lalu mulut Maya membuka, menelan kepala dulu, hisap pelan. Hangat, basah, dan ketat. Lidahnya masih menari di bawah batang.
Pelan-pelan dia turun, menelan lebih dalam. Separuh panjang kontol Kevin masuk ke mulutnya, tenggorokannya seperti memijat. Dia naik-turun lambat, suara “slurp… slurp…” basah terdengar jelas. Air liur Maya menetes ke pangkal kontol, membuat semuanya licin.
Kevin hampir gila. “Ma… enak banget… aku mau keluar…”
Maya langsung berhenti, mulutnya lepas dengan suara “pop”. “Belum boleh. Mama mau ajarin yang lebih enak lagi.”
Dia bangun, melepas celana dalamnya pelan. Memeknya yang dicukur rapi terlihat—bibirnya merah muda, sudah basah kuyup, cairan bening menetes ke paha. Klitorisnya menonjol kecil, pink dan mengkilap.
“Lihat ini, Vin. Ini klitoris. Bagian paling sensitif. Sentuh pelan dulu dengan jari.”
Dia memandu jari Kevin ke sana. Kulit memek ibunya panas, licin seperti sutra basah. Kevin usap klitoris pelan, lingkaran kecil. Maya langsung mengerang keras, pinggulnya bergoyang sendiri.
“Ahh… ya, seperti itu… sekarang masukin satu jari… pelan…”
Jari Kevin masuk ke dalam lubang yang hangat dan ketat. Dinding memeknya berdenyut, menjepit jari seperti ingin menahan. Dia gerakkan pelan, keluar-masuk, sambil ibu jari mengusap klitoris.
Maya tubuhnya gemetar, payudaranya naik-turun cepat. “Tambah jari lagi… dua… ahh bagus… sekarang cepat sedikit…”
Kevin percepat, suara “plek plek” basah terdengar dari memek yang semakin banjir. Maya mengerang panjang, lalu tubuhnya menegang. “Mama mau keluar… ahhh!!”
Cairan hangat menyemprot ke tangan Kevin, memeknya berdenyut kuat. Maya orgasme pertama malam itu, tubuhnya bergetar hebat, napas tersengal.
Setelah tenang, dia tersenyum lemah. “Sekarang giliran kamu masuk ke Mama.”

Dia naik ke atas pangkuan Kevin lagi, posisi cowgirl. Tangan memandu kontol Kevin ke pintu memeknya. Ujungnya menyentuh bibir memek yang basah—panas, licin.
“Masukin pelan ya, Nak. Rasain setiap senti…”
Kevin dorong pelan. Kepala kontol masuk dulu, lalu batangnya perlahan tertelan oleh memek Maya. Rasa hangat, licin, dan ketat luar biasa. Dinding memeknya seperti memijat setiap inci kontolnya.
“Ahh… gede banget… memek Mama penuh…” desah Maya sambil turun sepenuhnya. Kontol Kevin masuk sampai pangkal, menyentuh ujung rahim.
Dia diam dulu, membiarkan Kevin merasakan. Lalu mulai bergoyang pelan—naik-turun kecil, pinggulnya berputar. Payudaranya bergoyang lembut di depan wajah Kevin.
“Lihat Mama, Vin… rasain setiap gerakan… goyang pinggul Mama menjepit kontol kamu…”
Kevin meremas pantat ibunya yang bulat dan kencang, membantu gerakan. Sensasi itu luar biasa—setiap turun, memek Maya seperti menyedot kontolnya lebih dalam.
Mereka bersetubuh lambat selama hampir dua jam. Maya ajarkan missionary dulu: Kevin di atas, genjot pelan sambil ciuman dalam. Lalu kembali cowgirl, Maya yang kontrol ritme. Terakhir doggy di pinggir kasur—Maya nungging, pantatnya terangkat sempurna, memeknya terbuka lebar.
Kevin masuk dari belakang, tangannya meremas payudara yang menggantung. Genjotannya pelan dulu, lalu semakin cepat. Suara benturan pantat ke paha “plak plak” bercampur erangan.
“Genjot kuat, Vin… ahh… isi Mama…”
Kevin tahan ejakulasi berkali-kali, belajar teknik bernapas dari Mama. Akhirnya saat Maya orgasme ketiga—tubuhnya bergetar hebat, memeknya menyemprot lagi—Kevin ikut keluar. Sperma panas menyemprot dalam-dalam ke rahim ibunya, tanpa kondom.
Mereka ambruk berpelukan, napas tersengal. Maya cium kening Kevin. “Bagus banget, Nak. Besok kita lanjut lagi ya, kalau Papa dinas.”
Kevin mengangguk lemah, tapi hatinya sudah ketagihan.
Keesokan harinya, Tyo berangkat dinas ke Surabaya selama tiga hari. Pagi-pagi sekali mobilnya sudah pergi. Kevin gelisah seharian di kampus, pikirannya melayang ke malam sebelumnya. Rasa memek Mama masih terasa di kontolnya.
Pulang sore, dia mandi lama, ganti celana pendek dan kaos oblong. Duduk di sofa ruang tamu, menunggu seperti anak kecil.
Maya turun dari lantai atas sekitar jam tujuh. Dia pakai tank top putih ketat yang menonjolkan putingnya samar-samar, dan hot pants denim pendek yang memperlihatkan paha mulusnya. Rambutnya tergerai, wangi shampoo baru.
“Sabar ya, Nak. Mama baru selesai masak makan malam,” katanya sambil tersenyum, langsung duduk di pangkuan Kevin.
Makan malam mereka hanya separuh habis. Nasi goreng spesial buatan Maya terlupakan di meja makan. Mereka sudah saling cium di sofa, tangan Kevin merayap ke bawah tank top, meremas payudara telanjang—tanpa BH kali ini.
Maya naik ke atas Kevin, hot pantsnya dilepas pelan. Memeknya sudah basah lagi. Dia goyang liar di posisi cowgirl, pinggulnya maju-mundur cepat, memeknya menjepit erat.
“Ahh… Vin… kontol kamu enak banget… lebih enak dari Papa… ahh…”
Kata-kata itu membuat Kevin semakin gila. Tangannya meremas pantat, membantu dorongan lebih dalam. Mereka pindah ke karpet ruang tamu, Kevin di atas, genjot missionary dengan tenaga penuh. Kaki Maya melingkar di pinggangnya, tumitnya menekan punggung.
“Isi Mama lagi, Vin… keluarin semua di dalam… Mama mau ngerasain panasnya sperma anak Mama…”
Kevin pompa kuat, sperma menyemprot dalam jumlah banyak, membuat Maya orgasme ketiga dengan jeritan kecil.
Hari-hari berikutnya semakin intens. Setiap Tyo lembur atau dinas, mereka manfaatkan. Mandi bareng di kamar mandi utama—air hangat mengalir, sabun saling usap tubuh. Maya berlutut di bawah shower, hisap kontol Kevin sampai keluar di mulutnya, menelan semua sambil pandang mata nakal.
Di dapur, saat Mama masak, Kevin peluk dari belakang, kontolnya masuk pelan sambil Mama mengaduk sayur. Genjot doggy di meja makan, piring-piring bergoyang.
Maya semakin liar. Dia suka rambutnya ditarik pelan saat doggy, atau lehernya dicekik ringan sambil Kevin bisik cabul.
“Bilang Mama pelacur kamu, Vin…”
“Mama pelacur kontol anak sendiri… memek Mama milik Kevin selamanya…”
Kata-kata kotor itu membuat mereka berdua gila kenikmatan. Kevin bisa tahan empat ronde, membuat Maya lemas di kasur, tubuhnya penuh bekas ciuman dan cairan.
Di luar, mereka normal. Sarapan bareng, ngobrol kuliah. Tapi pandangan mata mereka penuh rahasia.
Tyo mulai curiga. Istrinya tiba-tiba glowing, sering senyum sendiri. Badannya lebih berisi di pinggul dan payudara. Malam dia sering bilang capek tapi tidur dengan senyum.
Suatu malam pulang awal, dia dengar desahan dari atas. Tapi saat naik, semuanya sepi.
Akhirnya, setelah dua minggu, dia pasang kamera tersembunyi di plafon kamar utama.
Malam pertama aktif, Tyo lembur. Notifikasi motion detected jam sepuluh.
Dia buka aplikasi, tangan gemetar.
Layar menunjukkan Maya pakai lingerie merah transparan, Kevin masuk, ciuman ganas. Oral panjang—Maya dijilat memek sampai squirting ke muka Kevin.
Lalu Kevin genjot kuat, berbagai posisi. Tyo shock, tapi kontolnya tegang. Dia kocok sendiri sambil nonton, keluar saat melihat sperma Kevin memenuhi memek Maya.
Sejak itu, Tyo jadi voyeur setia. Nonton rekaman setiap malam, coli berkali-kali. Dia cemburu tapi terangsang luar biasa.
Kevin dan Maya semakin dalam. Bukan lagi pelajaran—mereka pecinta sejati. Maya sering bisik saat Tyo tidur di sebelah, “Malam ini lagi ya, Nak… Mama kangen kontol gede kamu.”
Rumah itu tetap rapi dari luar. Tapi di dalam, rahasia pekat menyelimuti—kenikmatan terlarang yang tak ada yang mau akhiri.
TAMAT