Namaku Rina Wardhana, 42 tahun, istri dari Aditya Wardhana—CEO sebuah perusahaan tech startup yang valuasinya sudah tembus miliaran dolar. Orang-orang bilang aku beruntung: rumah mewah di kawasan elite Jakarta Selatan, mobil Eropa, liburan ke Maldives tiap ulang tahun pernikahan. Tapi ada satu hal yang nggak pernah mereka lihat: kesepianku.
Mas Adi sibuk. Bukan sibuk biasa, tapi level di mana dia bisa meeting dari jam 6 pagi sampai jam 2 malam. Kadang dia tidur di kantor, kadang pulang cuma buat ganti baju. Ranjang kami dingin sudah bertahun-tahun. Terakhir kali kami berhubungan intim yang benar-benar passionate mungkin pas anniversary ke-15, dan itu pun karena aku yang inisiatif.
Aku nggak mau jadi istri yang cuma numpang hidup. Makanya aku jaga tubuh ini mati-matian. Yoga setiap pagi, pilates tiga kali seminggu, makan clean, skincare routine yang ribet. Hasilnya? Orang-orang masih sering salah tebak umurku—banyak yang kira aku baru 30-an akhir. Glute kencang, perut rata dengan garis samar, dada 34D yang masih tegak. Aku tahu aku masih hot. Tapi sayangnya, orang yang seharusnya paling menikmati itu malah nggak pernah ada di rumah.
Suatu malam aku scrolling Instagram sambil rebahan di sofa ruang keluarga. Ketemu akun @riopratama_fitness. Fotonya… ya Tuhan. Cowok 25 tahun, tinggi 180-an, badan atletis banget. Six-pack terpahat jelas, bahu lebar, lengan berurat, dan senyum yang bikin perutku berdegup aneh. Bio-nya: “Certified Personal Trainer | Fat Loss & Muscle Gain Specialist | DM for private session.”
Aku langsung DM.
Rina: Halo, Rio. Saya lihat review kamu bagus banget. Ada slot kosong buat private training di rumah?
Dia balas dalam hitungan menit.
Rio: Halo kak! Ada banget. Lokasi Jakarta? Bisa mulai minggu depan kalau kakak mau. Goalnya apa nih?
Kami chat panjang. Aku cerita aku mau toning keseluruhan, terutama glute dan core. Dia tanya foto before (pake baju olahraga tentu saja), aku kirim yang aku pakai legging hitam ketat sama crop top. Dia balas: “Wah, kakak udah bagus banget ini. Tinggal polish sedikit aja.”
Kami deal: tiga sesi seminggu—Senin, Rabu, Jumat—jam 9 pagi. Tarifnya lumayan, tapi buat aku bukan masalah.
Hari pertama Rio datang, aku deg-degan banget. Aku pakai set baru: legging abu-abu high-waist yang bikin pantatku kelihatan bulat sempurna, sama sports bra hitam yang agak rendah. Rambutku ponytail tinggi, makeup natural.
Pintu dibuka, dia berdiri di sana dengan tas gym besar, tank top putih ketat, celana training pendek. Bau parfumnya langsung nyerang—maskulin, fresh.
“Selamat pagi, Bu Rina,” sapanya sambil jabat tangan. Telapak tangannya besar, hangat, kuat.
“Panggil Rina aja ya, Rio. Biar santai,” jawabku sambil tersenyum lebar.
Aku ajak dia turun ke basement. Gym pribadiku luas, dinding full mirror, lantai rubber mat tebal, AC dingin, diffuser lavender nyala.
“Wah, gymnya keren banget, Rina. Lengkap lagi,” pujinya sambil taruh tas.
“Haha, suami aku yang desain dulu. Sayang jarang dipake,” kataku ringan.
Kami mulai assessment. Dia timbang badanku, ukur lingkar pinggang, paha, lengan. Pakai caliper buat cek body fat. Waktu dia jepit kulit perutku, jarinya dingin menyentuh kulit telanjang di bawah crop top.
“Body fat cuma 18,5%. Bagus banget buat umur… eh, maaf, nggak boleh tanya umur ya?” katanya sambil nyengir.
“42,” jawabku santai. “Masih oke kan?”
Dia ngeliatin aku dari atas sampai bawah. “Lebih dari oke. Banyak klien aku umur 30-an yang nggak se-toned ini.”
Aku tersipu. Sudah lama nggak dipuji cowok selain Mas Adi.
Sesi pertama ringan: warm-up treadmill 10 menit, lalu circuit bodyweight—squat, lunges, glute bridge, push-up on knees, plank. Dia koreksi form aku terus-menerus.
“Rina, waktu squat, pinggulnya lebih mundur lagi… gini.” Dia berdiri di belakangku, tangannya pegang pinggangku pelan, bantu dorong ke belakang. Napasnya nyentuh tengkukku.
Aku ngerasain bulu kudukku merinding. “Gitu ya? Oke…”
“Iya, perfect. Glute-nya harus aktif banget,” katanya, tangannya turun sedikit ke atas pantatku—masih di batas wajar koreksi form.
Sesi selesai, aku berkeringat, badan pegal enak. Dia kasih program mingguan, saran makan, dan pamit.
“Besok Rabu ya, Rina. Jangan lupa protein shake setelah latihan.”
Malamnya aku cerita ke Mas Adi pas dia pulang jam 10.
“Trainer baruku oke banget, profesional.”
Dia cium pipiku sekilas. “Bagus dong, Sayang. Aku seneng kamu semangat olahraga lagi.”
Minggu pertama berlalu cepat. Kami latihan tiga kali, Rio selalu tepat waktu, selalu bawa energi positif. Dia cerita tentang kompetisi fitness yang dia ikutin, tentang klien artis yang pernah dia handle, tentang resep smoothie enak. Aku juga cerita—tentang anak kami yang kuliah di Australia, tentang travelling yang aku suka, tentang betapa Mas Adi sibuk.
“Pak Adi jarang nemenin latihan ya?” tanyanya suatu hari waktu kami istirahat minum air.
Aku menghela napas. “Jarang banget. Dia sibuk kerja.”
Rio angguk. “Sayang sih. Padahal olahraga bareng enak loh, bisa quality time.”
Aku cuma tersenyum kecil.
Minggu ketiga, sentuhan mulai berubah. Waktu deadlift pakai dumbbell, dia pegang paha belakangku lebih lama.
“Hamstring harus kenceng gini… tekan ke bawah,” katanya, jarinya menekan ototku. Aku ngerasain jarinya hampir nyentuh bagian dalam paha.
“Thanks, Rio,” jawabku, suaraku agak serak.
Dia nyengir. “Sama-sama, Rina. Kamu cepet tangkep banget.”
Satu hari Rabu hujan deras sejak pagi. Mas Adi lagi meeting penting sama investor dari Singapura, terkunci di ruang kerja lantai dua sejak jam 7 pagi. Kami mulai latihan jam 9.
Aku pakai legging navy yang agak tipis, sama crop top putih yang basah keringat cepet kelihatan. Rio pakai tank top abu-abu ketat—ototnya kelihatan banget setiap gerak.
Kami lagi partner stretch di matras. Aku duduk kaki lurus, dia bantu tekan badanku ke depan.
“Tarik napas dalam… hembuskan pelan-pelan,” bisiknya deket telingaku. Badannya hampir nempel punggungku.
Aku ngerasain napasnya panas. Pas aku angkat kepala, mata kami ketemu di mirror.
“Capek ya hari ini?” tanyanya lembut.
“Sedikit. Tapi enak kok,” jawabku.
Dia lepas pegangan pelan, tapi tangannya nggak langsung pergi. Malah geser ke pinggangku, ibu jarinya usap-usap kulit telanjang di bawah crop top.
“Rina… kamu cantik banget waktu berkeringat gini,” katanya pelan.
Aku tertawa kecil. “Gombal ah.”
“Beneran,” jawabnya serius, matanya gelap.
Detik itu aku nggak mundur. Malah balik badan, tanganku nyentuh dada dia. “Rio…”
Dia langsung cium aku. Ciuman pertama lembut, tapi cepat jadi lapar. Lidah kami saling kejar, tangannya langsung remas pantatku keras dari balik legging.
“Rina… aku udah lama pengen gini,” desahnya di antara ciuman.
Aku mendesah. “Aku juga…”
Kami lanjut di matras. Dia buka crop top aku pelan, matanya lapar lihat bra hitamku.
“Bra-nya seksi banget,” katanya sambil cium leherku, turun ke dada. Dia tarik bra ke bawah, hisap putingku keras-keras sampai aku menggeliat.
“Ahh… Rio… enak…” erangku.
Dia ketawa pelan. “Putingnya keras banget, Rina. Dari tadi ya?”
Aku cuma angguk, tarik tank top-nya. Six-pack nya keras di bawah jariku, kulitnya hangat.
Aku buka celana trainingnya, pegang kontolnya yang udah tegang maksimal. Besar. Panjang. Panas. Urat-uratnya berdenyut di tanganku.
“Ya Tuhan… Rio… gede amat,” desahku sambil kocok pelan.
Dia mendesis. “Rina… ahh… pelan-pelan… enak banget tangan kamu.”
Dia dorong aku telentang, buka leggingku kasar. Celana dalamku udah basah banget.
“Basah sekali… dari tadi pengen ya?” tanyanya sambil jari telunjuknya usap clit-ku dari atas celana dalam.
“Iya… dari kamu pegang pinggang aku tadi,” akuku jujur.
Dia tarik celana dalamku, buka kakiku lebar. Lidahnya langsung main di clit, hisap pelan lalu cepat, dua jari masuk keluar memekku.
“Rina… rasanya enak banget… manis,” katanya di antara jilatan.
Aku jerit kecil. “Rio… ahh… aku mau keluar…”
Dia malah tambah cepat, sampai aku orgasme pertama—badanku kejang, cairanku banjiri mulutnya.
Setelah aku tenang, dia naik lagi, cium aku biar aku rasain diriku sendiri.
“Sekarang giliran aku,” katanya sambil arahin kontolnya ke memekku.
Masuk pelan dulu. Kepalanya besar, bikin aku mendesah panjang.
“Pelan… ahh… gede banget…” erangku.
Dia dorong dalam-dalam sampe habis. “Rina… kenceng banget… enak amat sih.”
Dia mulai pompa pelan, lalu cepat. Matras bergoyang keras, suara plak-plak benturan badan kami memenuhi ruangan.
“Suami kamu di atas…” bisiknya nakal sambil gigit cuping telingaku.
“Itu yang bikin deg-degan,” jawabku, memeluk lehernya erat.
Dia malah makin ganas, angkat pinggulku, sodok dalam-dalam sampe aku jerit.
“Rio… ahh… aku mau keluar lagi!”
“Bareng ya… aku juga mau…” desahnya.
Kami keluar bareng. Aku squirting keras—basah banget matrasnya. Dia tarik keluar, nyemprot di perut dan dada aku—panas, banyak, lengket.
Kami rebahan ngos-ngosan. Dia cium keningku.
“Ini… salah,” kataku pelan.
“Tapi enak kan?” tanyanya sambil nyengir.
Aku cuma tersenyum.
Sejak itu, setiap sesi punya “bonus”. Kadang cuma blowjob cepat di shower gym, kadang full sex di bench press dengan aku di atas.
Satu Jumat sore, Mas Adi lagi conference call panjang. Kami lagi latihan hip thrust di bench. Rio di bawah aku, bantu angkat pinggul.
Setelah set terakhir, dia nggak lepas pegangan. Malah tarik aku duduk di pangkuannya.
“Rina… aku pengen lagi,” bisiknya sambil cium leherku.
Aku ngerasain kontolnya udah keras di bawah celananya, nempel pantatku.
“Di sini? Riskan…” kataku, tapi badanku udah gerak sendiri, gesek-gesek pelan.
“Justru seru,” katanya sambil buka leggingku dari belakang.
Dia masuk dari belakang doggy style, aku bertumpu di bench. Pompaannya cepat dari awal.
“Bayangin kalau Pak Adi turun sekarang… liat istrinya digenit trainer di gym rumah sendiri,” bisiknya sambil tarik rambutku pelan.
Kata-kata itu bikin aku langsung klimaks. Memekku mencengkeram kontolnya keras.
“Ahh… Rina… kenceng banget… aku keluar ah!”
Dia nyemprot dalam—hangat, banyak. Kami udah nggak pakai kondom lagi.
Setelahnya aku pura-pura marah. “Enak aja keluar dalam gitu.”
Dia peluk aku dari belakang. “Biar Rina hamil punya aku. Pasti anaknya ganteng.”
Aku ketawa, tapi dalam hati… mulai mikir-mikir.
Hubungan kami makin dalam. Rio kirim pesan setiap malam: “Good night cantikku. Besok latihan ya, aku kangen.” Bawa smoothie homemade tiap datang. Tanya kabar kalau aku lagi PMS.
Aku jatuh cinta. Beneran.
Mas Adi cuma notice aku makin glowing. “Trainer-nya hebat ya? Kamu tambah cantik aja,” katanya suatu malam sambil cium pipiku sekilas.
Aku cuma tersenyum, rasa bersalah dan excited campur aduk.
Sampai hari itu tiba. Jumat pagi, hujan deras lagi. Mas Adi bilang meetingnya bakal panjang, mungkin sampe malam.
Aku pakai set baru warna merah marun—legging super ketat, sports bra yang nunjukin belahan dada dalam.
Rio datang, matanya langsung gelap lihat aku.
“Rina… kamu sengaja ya pake gini? Mau bikin aku nggak fokus latihan?”
Aku nyengir. “Siapa bilang kita mau latihan beneran hari ini?”
Kami nggak tahan lama. Sepuluh menit warm-up, langsung ke matras.
Dia kunilingus aku di bench press—kakiku di bahunya, lidahnya main cepat di clit, tiga jari masuk keluar memekku yang udah banjir.
“Rina… enak banget… aku bisa gini seharian,” katanya di antara jilatan.
Aku tarik rambutnya keras. “Rio… ahh… aku mau keluar… jangan berhenti!”
Pas aku lagi di puncak, pintu basement terbuka pelan.
“Aku turun ambil air mineral dari kulkas bawah—”
Mas Adi berdiri di anak tangga, matanya lebar. Aku telanjang bulat, kaki lebar di bahu Rio, muka Rio masih di selangkanganku, lidahnya baru ditarik pelan.
Waktu berhenti. Aku panik total, dorong Rio, tutup dada dan selangkangan pakai tangan.
“Mas… maaf… ini bukan… aku bisa jelasin…”
Rio malah santai banget. Dia lap mulut pakai punggung tangan, nyengir ke Mas Adi.
“Maaf Pak, latihan lagi intens hari ini.”
Mas Adi nggak marah. Nggak teriak. Malah turun pelan-pelan, tutup pintu basement rapat.
“Rina… akhirnya ketahuan juga,” katanya pelan, suaranya serak—bukan marah, tapi… excited?
Aku bingung total. “Mas… aku…”
Dia nyengir kecil, mulai buka kemeja kerja satu per satu. Badannya masih bugar—dada lebar berbulu tipis, perut rata meski nggak six-pack.
“Aku udah curiga dari lama, Sayang. Tiap meeting panjang, aku buka CCTV basement dari laptop. Awalnya cuma mau lihat kamu latihan… eh malah dapat pertunjukan tiap sesi,” katanya sambil buka ikat pinggang.
Rio ketawa pelan. “Jadi Pak Adi voyeur ya?”
Mas Adi angguk tanpa malu. “Seru banget liat kalian berdua. Aku capek cuma jadi penonton doang. Boleh join nggak?”
Aku melongo. Ini mimpi apa?
Rio ngeliat aku, minta persetujuan. Aku… entah kenapa malah mengangguk pelan. Badanku masih panas dari tadi.
Mas Adi buka celana, kontolnya udah tegang keras—nggak kalah besar dari Rio.
“Sayang… aku udah lama nggak begini sama kamu. Maafin ya aku sibuk terus,” katanya lembut sambil cium aku dalam-dalam.
Rio nyengir. “Kita bagi ya, Pak?”
Malam itu… gila total.
Rio ambil aku dari depan—masuk pelan sambil cium leherku, pompa dalam-dalam.
“Rina… masih kenceng banget… enak amat,” desahnya.
Mas Adi dari belakang—dia lumuri pelumas banyak, masuk pelan ke lubang belakang yang jarang banget kami pakai.
“Sayang… santai… aku masuk pelan ya…” bisiknya di telingaku.
Aku di tengah, penuh banget. Dua kontol gerak bergantian—satu masuk, satu keluar.
“Ahh… Mas… Rio… aku nggak tahan… terlalu enak…” jeritku.
Mereka makin cepat. Tangan Rio remas dada aku, Mas Adi tarik putingku pelan.
“Rina… kamu cantik banget pas gini…” kata Mas Adi serak.
“Aku mau keluar… bareng ya!” teriak Rio.
Kami orgasme bareng. Aku kejang-kejang berkali-kali, cairanku banjiri kontol Rio. Rio nyemprot dalam memekku, Mas Adi nyemprot dalam pantatku—hangat, banyak, penuh.
Kami ambruk bertiga di matras, napas ngos-ngosan, badan berkeringat lengket.
Mas Adi cium keningku. “Terima kasih ya, Sayang. Ini yang aku butuhin biar kita tetap panas.”
Rio nyengir. “Jadi aku masih di-hire ya, Pak?”
Mas Adi ketawa. “Gajinya naik tiga kali lipat. Asal kamu mau latihan bareng kita tiap Jumat malam. Dan kalau Rina mau bonus di hari lain, boleh aja.”
Aku cuma bisa tersenyum lemah, badan masih lemes total.
Sejak itu hidup berubah 180 derajat.
Senin dan Rabu tetap sesi aku-Rio berdua—dengan bonus panas seperti biasa.
Jumat malam jadi sesi bertiga. Kadang di gym, kadang pindah ke kamar utama dengan ranjang king size.
Mas Adi yang dulu cuek jadi super perhatian—pulang lebih awal, bawa bunga, ajak dinner romantis. Dia bahkan mulai latihan ringan bareng Rio biar stamina nggak kalah.
Aku? Tubuhku makin goals, libido ku makin tinggi, dan aku punya dua cowok luar biasa yang sama-sama bikin aku puas setiap hari.
Siapa sangka, hire personal trainer malah jadi titik balik terbaik dalam pernikahan kami?
Sekarang setiap kali aku lihat matras di gym, aku cuma bisa nyengir sendiri.
Latihan yang membakar lebih dari sekadar kalori.
TAMAT